Are you there, COURTESY?

19 07 2011

Waktu nonton “My black mini dress” kemaren, sebenarnya alur ceritanya tidak terlalu menarik. Tapi usia 20-an, wanita, berjuang mencari hidup dan kekayaan – kinda bit related to me. Akhirnya yang ditonton adalah fashionnya, dan bertanya-tanya bagaimana caranya mereka bisa selangsing itu ya?.

Yang paling menarik adalah ketika salah seorang tokohnya, seorang perempuan dengan karakter girly mengikuti les TOEFL. Karena dia buat keributan, salah seorang pelajar menatapnya dengan kesal,”FUCK ! Shut up ! Aren’t you told not being rude, you stupid old lady?”. Karena si wanita tidak fasih bahasa Inggris, dia nggak paham ucapan si pelajar. Tapi kalau dia bisa bahasa Inggris, pasti dia kesal dengan ucapan sekasar itu.

Mengenai kesopanan, lupakan saja deh. Sepertinya bergaungnya westernisasi, kesopanan or so called courtesy itu lupakan saja dan flush di toilet.

Ayah saya, seorang dosen yang telah mengajar selama 35 tahun waktu itu pulang dengan kesal. Bukan karena masalah gaji, tapi karena salah seorang mahasiswa-nya yang waktu ditanya bukannya menjawab “Iya” atau “Ada apa Pak?” tapi menjawab “Ho-oh” dan “He-eh”. Duh nggak banget deh.

Waktu itu di angkot, seorang cewek pelajar SMA menjatuhkan hape didepan saya. Saya ambil dan tersenyum. Dia bahkan nggak senyum atau simply mengucapkan terima kasih. Haha.

Hari ini yang teraneh, saat membaca MANGLE di perpus (yessss, I read MANGLE occasionally) salah seorang mahasiswa menunduk dan mencoba melihat apa yang saya baca. Dia menatap saya dari dekat lalu bertanya,”Dari jurusan mana ya?”. Bukan karena kaget disangka masih kuliah S1 tapi karena ucapan dan tindak tanduk nya yang tak sopan. Kemana tuh “permisi”, “maaf” dan yang lainnya pergi?.

Mulai sekarang, UBAH CARA PIKIR. Kita sudah didoktrin dari SD kalau orang Barat itu kasar dan acuh, padahal sebaliknya ! Siapa yang bilang bahwa bangsa Indonesia itu manis dan ramah?. Cek lagi deh cara pikir kita. Maybe we aren’t as nice and polite as we think.





Star Struck

14 07 2011

Berita jadiannya anggota BEAST dan KARA sempat membuat heboh dunia pendidikan Korea. Bukan karena apa2, tapi karena para muridnya jadi sibuk menangis dan kegiatan belajar mengajar gak jalan.

Tragis ? Lucu ?.

Well, itulah jenis cinta yang paling menyakitkan sepanjang sejarah. Jenis cinta pada idola. Berdasarkan penelitian dari buku psikolog yang gua baca – kalau cowok merasakan cinta karena dia ingin seperti tokoh yang dia sukai. Misal, segagah Superman, sekeren Rain, etc. Kalau perempuan, dia merasakan semua itu karena dia mengagumi seseorang itu dari segala sisi, merasakan simpati dan karena ketertarikan secara seksual.

Perempuan memang gampang membuka hati (entah kenapa), makanya kalau nangkringin artis2 dimanapun kan kebanyakan cewek daripada cowok. Mungkin itu sebabnya jenis cinta ini yang lebih sering terkena ke cewek. Haha.

Dulu waktu berusia 15 tahun, gua merasakan jenis cinta ini. Meskipun gak sampai mendalam sekali, tapi perasaan sayang itu gak bisa dipungkiri-ada. Perasaan itu ditujukan pada The Moffatts. SEgala energi, uang, waktu – kayanya habis buat mereka. Tapi ada semacam perasaan bahagia tersendiri yang ..well…..it was there, alright.

Dan sekarang setelah 13 tahun berlalu, perasaann sayang gua untuk The MOffatts masih ada. Tapi sekarang perasaan simpati yang gua sebut diatas muncul lagi. Dan kini sebentuk perasaan itu untuk SHINee.

Mungkin gua nggak akan menangis seperti para gadis itu saat Key jadian misalnya, atau Minho mencium seorang gadis di drama, atau saat Taemin mengenakan celana menampakkan aurat sambil mengacungkan jari tengah. Yah, mungkin gua nggak akan menangis. Mungkin gua akan tertawa saja. Tapi perasaan itu tetap ada. Dan energi gua selain mengajar, belajar dan memeriksa paper mahasiswa – gua habiskan untuk SHINee. Melelahkan namun membahagiakan. SEkarang aja mereka mulai sering muncul di mimpi gua.

Yah, mungkin inilah jenis cinta paling menyedihkan. But don’t worry. I am fine. All of us will, eventually. Nan gwenchana.








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.