CHAPTER 10 – FINAL
“Bukan begitu caranya, pabo !”.
“Diam ! Itu benda mahal ! Hati-hati !”.
“Pabo ! Aku juga tahu!”.
“Oh, kau tak sopan pada hyung-mu begitu ?!”.
“Hyung itu panggilan manusia ! Apa kita ini manusia?!”. “Aish, dasar bocah ! Bocah! “.
Ribut. Suara apa ribut-ribut itu?. Onew mendesah dan menggumam. “Diam ! Jangan ribut ! Tampaknya Hyung mulai sadar !”. Suara yang lain. Key tampaknya, Onew tak yakin. Seluruh tubuhnya terasa berat, apa kali ini ia benar-benar…tamat?. Dibukanya matanya perlahan-lahan dan wajah itu balas menatapnya. Jumputan poni itu menghalangi wajah itu, namun Onew tahu ia jelas melihat bahwa mata itu basah. Ia mengernyit lagi, merah. Hanya itu warna yang bisa ia lihat, waeyo? Apa matanya juga ikut berdarah?.
Key bergetar disampingnya,”Ah Onew hyung, untung kupaksakan saja cairan di botol ungu itu masuk kedalam mulutmu. Kalau tidak, mungkin kami harus mengadakan pemakaman malam ini. Ditambah Taemin dan Jonghyun ribut hanya gara-gara masalah Ipod itu. Minho sedang sibuk menghubungi yang lain. Ah, Hyung….”, bisiknya.
Taemin menerobos masuk, earphone berwarna putih menempel di telinganya,”Ah syukurlah Onew hyung !”, ia berlari dan memeluk Onew yang masih tergolek lemah di tempat tidur. “Ahh…:,desahnya menahan sakit.”Oh, mian”, Taemin melepaskan pelukannya dan menatap tuannya itu. “Ya ! Key-hyung ! Hebat sekali bakatmu. Kali ini kita bisa bekerja sama ! “, Taemin mengedipkan mata pada pemuda itu. Key hanya tersenyum simpul. Jonghyun masih tak mampu berkata-kata, ia berdiri mematung di depan pintu. Menatap tuannya yang jelas – hidup – meski masih lemah.
Onew bergerak bangkit dan Key buru-buru membereskan bantalnya,”Jangan buru-buru Hyung…kan kau….”. Onew berdehem dan mengitarkan pandangan ke sekitar, semuanya hanya terlihat berwarna semu merah. Aneh, batinnya.
Minho muncul dan melangkah masuk. Handphone tergenggam erat di tangannya, pemuda jangkung itu menatap Onew dengan waspada sebelum ia menunjuk pintu dengan dagunya. “Waeyo? Ada apa?”, tanya
Taemin heran. Minho berdehem, lalu ia mulai menatap Onew. Menatap mata yang merah itu. “Hyung, tadi aku sudah telepon kesana kemari. Ternyata cairan itu jarang sekali adanya dan hanya ada di beberapa tempat di dunia. Salah satunya di Italia dan Rusia. Cairan itu….bisa mengubah…ehmm….struktur molekul kita”. Semuanya mengerutkan kening, struktur molekul? Bahasa rumit apa itu yang keluar dari mulut Minho?,
“Jelaskan maksudnya”, Onew berkata sambil berusaha membiasakan diri dengan segala sesuatu yang serba merah itu. “Itu…katanya cairan itu mengubah kita – strigoi – makhluk malam, menjadi makhluk siang – moroi. Hyung, mungkin kali ini kau bisa keluar saat ada cahaya matahari ! Mungkin kau tak akan lagi perlu bersembunyi ! “, pekiknya bersemangat. Onew tersenyum, ada-ada saja,”Jangan bodoh. Makhluk seperti kita ini jelas-jelas tak tahan sinar matahari, perlu diundang untuk masuk ruangan, punya bakat istimewa tertentu, butuh mengkonsumsi darah, sembunyi saat siang. Kan sudah kujelaskan semuanya padamu !”, Onew berteriak marah. Tiba-tiba saja ia merasa sangat berenergi dan pandangannya mulai pulih. Ia mulai bisa mengenali warna-warna lain.
“Aku sudah tahu fakta itu selama 2 abad ! Mana mungkin begitu !”, jeritnya gemas. Namun ia menyadari sesuatu yang lain, sebelah mata Minho juga kini berwarna merah !.
Minho mendesah,”Yah, tapi Key yakin begitu. Jadi tadi saat Hyung pingsan, kami semua juga minum itu”. “MWO?!”, Onew hampir tak mempercayai pendengarannya. Kenapa makhluk ciptaan hasil kreasinya ini berbuat begitu bodoh?. Selama ini yang ia tahu, bila ia tak tahan lagi pada takdirnya – isi botol itu akan membebaskannya ke alam baka. Bukankah begitu? Eh? Kini ia merasa ragu dan bimbang. Ia mulai bangkit dari tempat tidur dan dipandangnya keempat namja itu. Kini semuanya mulai bermata merah ! Apa, betul demikian?, ia heran.
Jonghyun terbatuk. Minho juga mulai tersengal. Key juga terbatuk dan memegangi dadanya. Taemin terdiam dan memegangi lehernya yang seolah tercekik. Onew diam, ia bergerak 2 langkah lalu pingsan kembali. Inilah akhir dari kami semua. Tamat.
***
Panas. Hangat. Apa itu ya? Neraka, mungkin. Pelupuk matanya terasa berat. Key mendesah panjang. Aku masih bisa bernafas dengan baik. Tapi, panas apa itu?, batinnya heran. Ia mendengar suara-suara dan langkah kaki. Dan celotehan. Dan suara tawa. Dan hembusan angin lembut yang segar. DImana ini? Surga, kalau begitu. Kalau Tuhan masih mengijinkan makhluk seperti kami masuk surga, bisiknya.
“Hyung”, ada suara memanggilnya. “Hyung, banguuunnnn”, suara itu terdengar seperti bisikan. Memaksa. Ia berusaha membuka mata, berat. Ia lelah sekali. “Hyung, buruan ! Sebelum habis semuanya !”, seru suara itu. Apa yang habis?, tanyanya. Namun sesuatu membangunkannya juga, bau yang sedap sekali. Ia mengenali bau itu dengan pasti ; ada jamur, saus tomat, keju, potongan daging dan….bau darah kering. Sedap sekali !. Key membuka matanya, yang tampak pertama adalah cahaya terang dan dedaunan berwarna hijau. Tidak ! Ini siang hari ! Aku akan mati ! Ia berlari secepat kilat menuju rumah.
“Mau kemana?”, panggil sebuah suara. Ia menoleh, melihat Onew Hyung duduk disalah satu bangku taman sambil mengenggam sebuah buku. Minho dan Junghyo duduk diatas tikar didekatnya. Mereka sibuk memakan pizza dan menatapnya sambil tersenyum lebar. Taemin berdiri tak jauh disekitar situ, menari mengikuti musik Ipod ditelinganya.Eh?.
Onew tersenyum, manis sekali tampaknya. Matanya tak lagi merah, hitam semata. Ia meletakkan buku dan bergerak perlahan. Ia tidak berjalan, melayang tepatnya. Sedikit saja dari atas permukaan tanah.
Setiap gerakannya lembut, halus dan anggun. Wajahnya juga tersenyum, manis sekali tampaknya. Belum pernah Key melihat hyung-nya setampan ini sebelumnya, dan belum pernah dibawah sinar matahari pula. Onew masih tersenyum,”Key, pabo ! Selain menolongku, kau juga menolong keluarga ini. Kamsa hamnida”, ia lalu memeluk makhluk kreasinya itu dengan perasaan puas dan bangga. Key balas memeluknya, baru kali ini ia merasa sangat bahagia. Lalu melepaskan pelukan itu dan berlari ke arah Minho, menyambar pizza yang baru saja hendak dimakannya. Minho menjerit kesal,”Aish !”.
Onew terbahak, pandangannya bertemu dengan Taemin yang masih menari. Mereka saling bertatapan, lalu Onew mengedipkan mata. Nah, akhirnya aku punya keluarga yang seutuhnya. Dan kembali bergerak mendekati kursinya. Ia tak perlu capek-capek berjalan, ia bisa melayang.


Recent Comments